Pemilu 2009 Tobasa Harus Lebih Baik
Meraih sukses penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, tentu saja tidak akan terlepas dari sejumlah persoalan yang menyertai persiapan, pelaksanaan, dan pasca pelaksanaannya. Pengalaman pelaksanaan Pemilu 2004 lalu, menjadi bahan pelajaran berharga yang tidak boleh kita abaikan begitu saja. Sehingga, penyelenggaraan Pemilu 2009 akan lebih baik.
Pemilu 2004 lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) terbentuk pada tanggal 24 April 2001. Saat itu, banyak masalah yang dihadapi KPU. Terutama, dalam pengadaan logistik. Pelaksanaan Pemilu tersebut mengajarkan banyak hal yang sangat berarti. Sungguh ironis, jika segala yang buruk kembali terulang,
Sepintas memang terlihat, bahwa persoalan menjelang Pemilu 2009 tidaklah mudah. Pemilu 2009 telah memasuki tahap awal. Yaitu, pencalonan anggota legislatif oleh partai politik. Kejenuhan politik menghinggapi masyarakat, akibat kekecewaan demokrasi. Kurang bermaknanya demokratisasi terhadap kehidupan masyarakat, menimbulkan tingginya angka golput. Termasuk merosotnya kredibilitas penyelenggara negara karena korupsi. Juga, skandal moralitas yang menjerat elite politik. Dampaknya adalah, kian melemahnya antusiasisme publik untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Juga, lunturnya kepercayaan publik terhadap demokrasi. Jika tidak diatasi, hal ini dikhawatirkan menjadi sandungan politik bagi keberlanjutan demokrasi di tanah air.
Pembenahan proses penegakan hukum Pemilu, sangat perlu. Sebab, banyak masyarakat yang tidak puas atas proses dan hasil Pemilu. Hal tersebut diakibatkan banyaknya pelanggaran yang tidak bisa diselesaikan. Juga, perasaan telah diperlakukan tidak adil oleh para penyelenggaranya. Masalah penegakan hukum dalam pelaksanaan Pemilu, tidak boleh dibiarkan begitu saja Karena, merupakan ancaman terhadap legitimasi hasil Pemilu.
Kini, yang paling mendesak, jelas di depan mata sekaligus paling realistis dilakukan, adalah partisipasi masyarakat dan kinerja institusi Pemilu 2009. Bagaimana menjadikan Pemilu mendatang lebih berkualitas, setidaknya seperti Pemilu sebelumnya, sehingga mendongkrak kepercayaan publik terhadap demokrasi. Harusnya kita belajar dari masa lalu. Jangan mengulangi yang tidak baik, tapi memperbaikinya agar menjadi lebih baik.
Filed under: journal
Sudah selayaknya Pemilu 2009 di Tobasa harus lebih baik dan semoga masyarakat makin arif dan bijaksana memilih calon pemimpin. Kepada calon Pemimpin, kiranya nurni itu tetap ada…
“Sungguh ironis, jika segala yang buruk kembali terulang”
>Adongdo pandohan sian Tano Bolanda songon on: Ndang olo Halode tarrobung dua hali tu sada robung-robung.
Alai adongdo hasurungan ni jolma sian halode, boi do di paasing pangantusion ni hata tarrobung i.