Surat Terbuka untuk Brilian Moktar,SE
Konsep pemikiran untuk menuliskan sebuah surat terbuka, rangkuman dari catatan-catatan kecil sebagai wartawan daerah Koran Nasional Pos, tidak lepas dari kapasitas-kualitas Brilian Moktar, SE sebagai pendiri Koran Nasional Pos, yang hari ini genap berusia 1 tahun.
Selintas terbersit dalam benak saya : kalau saja, saya berkesempatan menyelesaikan catatan kecil tanpa nuansa klise ini. Lalu, menghadiahkannya kepada pak Brilian, saat Koran Nasional Pos menapak usianya yang pertama. Kemudian, bisa menjadi buah perenungan. Tidak hanya sekedar untaian kata. Namun, semata-mata sebagai manifestasi kekaguman dari sosok fenomenal yang menyadarkan apa makna berprestasi yang sesungguhnya. Motivasi mencerahkan yang dimilikinya, untuk berani hidup mandiri, tidak mudah menyerah, terus maju meraih anugerah Tuhan.
Dan, ketika saya hendak memulai, ada keraguan yang muncul. Ada sedikit ketidak percayaan. Dan akhirnya sebuah keterpanaan, dalam kebimbangan serta kegalauan. Saya memaksakan, untuk menuliskannya terus. “Akankah saya mampu menulis dan menghadirkannya sebagaimana yang diharapkan Brilian ?”Apakah tidak justru menimbulkan stigma-stigma negative ?”Atau apakah akan ada rasa nyaman ?”, Serta, berbagai pertanyaan “apakah” lain yang muncul.
Lalu saya berkontempelasi. Mencoba merenung. Kemudian saya menyadari, bahwa apa yang saya tulis, bukan untuk disimpulkan sebagai sebuah karya ilmiah. Tidak perlu harus spektakuler, seperti layaknya dalam dunia extravaganza. Melainkan, hanya sebatas ekspresi bakat. Merangkai kata, untuk menafsirkan makna. Sebab, apa yang Saya tulis dan Saya ceritakan, tanpa sedikitpun bermaksud untuk memegahkan diri Ketua Sahabat Centre, ini.
Tulisan ini saya goreskan, sebagai ‘kado kecil’ untuk Koran Nasional Pos. Muncul dari hasil pergumulan batin. Dengan durasi penulisan, yang saya garap dalam rentang waktu haya satu hari menjelang dead line edisi ke-51 bulan Maret 2008. Lewat proses singkat, dengan cerita yang masih sangat jelas berkelebatan di benak dan kepala saya.
Di mata saya, Brilian Moktar, SE dengan segala cerita dan kisah-kisah kejadian berhikmah, hanya membuktikan kebenaran nilai dan pesan bermakna. Dari Brilian, yang mengajarkan kita untuk menerima apa adanya. Sebagai pendiri Koran Nasional Pos, pribadi dan prilaku yang terwujud dari beliau merupakan sesuatu yang indah. Sebab, sesungguhnya semua merupakan buah dari perjalanan hidup panjang yang membuat saya tertegun.
Brilian Moktar, SE di mata hati dan pemikiran Saya
Semangat “Nasionalis” diapresiasikan, di antara berbagai aktivitas yang dijalaninya. Atau, boleh jadi ter-inspirasi dari nasehat yang pernah diberikan seorang negarawan besar Amerika. “Jangan pernah tanyakan apa yang sudah diberikan Negara ini kepadamu. Tapi tanyakanlah, apa yang sudah kau berikan kepada Negerimu.” Nilai perjuangan dimaknainya, tidak hanya sebatas tebar pesona. Akan tetapi, di-interpretasikan, lewat kreasi bermanfaat.
Sosok pria muda, yang kegiatannya banyak berkiprah dalam berbagai bisnis ini, sangat tidak setuju, melihat wartawan-wartawannya, bekerja mulai dari mata hari terbit sampai mata istrinya terbenam, tanpa menghasilkan karya bermakna. Diimbanginya, dengan memikirkan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan bagi kehidupan semua karyawannya.
Jenjang pendidikan yang diperolehnya, (candidat Magister Management USU), memastikan kemampuannya dalam me`manage’ serta menjalankan semua bisnis dan perusahaannya secara berimbang. Obsesinya, ingin melihat seluruh karyawannya, terangkat derajat penghidupannya. Lebih mapan tingkat perekonomiannya. Karena hal itu akan menjamin hari depan tiap insan yang hidup di bumi persada nusantara ini.
Brilian Moktar, SE merasa bangga sebagai etnis Tionghoa. Dia beranggapan, adalah sangat penting meningkatkan kembali semangat para nenek moyang / foulding father yang dirumuskan tempo doeloe. Sebab, sesungguhnya etnis Tionghoa itu tidak haram. Karenanya, ‘pak Ketua’ ini melibatkan diri sebagai pengurus / Ketua Sahabat Centre (organisasi yang bergerak di bidang sosial), juga Sekretaris Yayasan Bodicita Mandala.
Disadarinya, kegiatan-kegiatan sosial merupakan bahagian yang tidak terpisahkan dari hidup dan kehidupan. Ini terbukti dari pemahamannya yang selalu ingin berbuat baik bagi sesama. Dengan kesederhanaan dan kedermawanan yang dimlikinya, mudah-mudahan mendapat pahala dan ridho dari Tuhan. Rasa hormat dan kesantunan yang diperlihatkannya, bisa menjadi pedoman yang sempurna.
Brilian, lelaki paruh baya, yang ketenangan dan kebijaksanaannya mendorong saya untuk menggali kisah klasik perjuangan yang berani, dan menantang. Sebab, katanya “apa yang membuat seseorang itu utuh ?” Jawabnya anteng. Singkat dan sederhana. “Dengan berbuat baik bagi sesama. Karena sebaik-baik manusia adalah orang yang berguna bagi sesamanya”.
Brilian adalah seorang wiraswasta gigih. (mirip konsep tulisan) Bambang N. Rachman Pres.Dir. Mc Donald Indonesia. “Menjadi Pengusaha adalah Keharusan”. Motto yang sangat enak didengar, tetapi teramat sulit dilaksanakan. Mungkin ‘beliau’ ingin menggaris bawahi kalimat tersebut, dengan stabilo kuning tebal. Sementara, buku-buku yang mengisi rak tengah ruang baca perpustakaan di Kantor Nasional Pos yang dikoleksinya, semua sarat makna phylosofis. Tujuannya, untuk referensi pencerahan hati, seperti karangan Achmedyan : La Tahzan (jangan bersedih).
Bagi Brilian, suami tercinta Ibu Jenice, SE, kekuasaan bukan hanya soal siasat meraup dukungan politik melalui penundukan. Akan tetapi, bagaimana membangun kharisma. Dan, sebagai etnis Tionghoa, beliau menempatkan adat bukan sekedar benda seni, namun merupakan manifestasi eksistensi kedirian. Sebagai symbol eksistensi kehormatan.
Itulah Brilian. Selalu mengusik dan merangsang saraf tiap individu. Untuk berfikir, menelusuri serta mencari solusi, di balik tiap misteri yang sarat arti. Inner power with Brilian selalu hadir, sehingga kita akan menemukan sebuah mimpi yang hilang.
Perjalanan panjang, langkah demi langkah merupakan hasil kerja keras. Berbagai aktivitas dijalaninya. Baik sebagai aktivis pada beberapa organisasi profesi, menuntutnya senantiasa harus berfikir rasional. Dia seorang problem solver. Bukan problem maker. Karenanya, semua persoalan mampu diatasinya dengan bijak.
Di antara banyak tantangan, rintangan serta kendala menghadang pada setiap peluang yang dimiliki, sesungguhnya sangatlah diyakininya, the dreams comes true. Mimpi hanya dapat diwujudkan dengan karya nyata, tidak sebatas karya kata.
Hidup dimaknainya, merupakan anugerah yang perlu diperjuangkan, agar dapat menjadi saluran berkat bagi sesama. Apapun bentuknya. Tokoh yang sering menulis catatan pinggir di kolom Koran Nasional Pos ini, memberi gambaran kehidupan berupa hasil pergumulan gigih, yang terajut oleh pengalaman hidup, sarat perjuangan. Ikon pengusaha otomotif ini, tidak hanya mengungkapkan hidup dan karya nyatanya dari sisi siluet.
Ziarah perenungannya tentang hidup dan profesi yang digeluti, merupakan kesaksian inspiratif yang akan membuka mata hati. Alih-alih berbicara tentang wajah dunia luar yang serba glamour. Ia ingin berbagi rasa, bahwa sesungguhnya kita juga mampu meretas kebuntuan hidup sebagaimana yang dialaminya.
Kearifan kongkrit dalam pola kebijakan, menyangkut permasalahan yang sangat kompleks, dalam me’manage’ berbagai cabang perusahaannya. Di antara mobilitas yang tinggi, di balik ketegaran, kelugasan yang dimiliki, tersimpan kelembutan hati dan kecerdasan. Inner power yang tersemburat dengan fantastis, mampu mengimbangi aktivitasnya yang sangat padat. Kegesitan dan kemampuannya sungguh sangat energik. Dengan mengucapkan sebuah kata “kreativitas”, Brilian terlihat senantiasa bermaksud improve. Menyongsong masa depan dengan penuh harap dan percaya diri.
Brilian, sosok yang low profil dan terkesan cukup bersahaja, selalu ingin berkontribusi dalam wujud yang nyata. Khususnya kesejahteraan semua karyawan, di setiap sektor. Terutama, yang menyangkut kepentingan kehidupan keluarga. Keberpihakannya dengan masyarakat kecil, selalu ditunjukkan lewat keperduliannya.
Brilian yang aktif sebagai Pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ini, sangat concern dengan segala hal yang menyangkut hidup dan kehidupan masyarakat. Terutama dari strata paling bawah. Rasanya tidak berlebihan, jika saya menyebutkan Brilian seorang pemimpin yang ideal.
Bravo, Nasional Pos… Horas !!!
Filed under: Tak Berkategori