Sehari Bersama ‘sang Guru’ Berry di Vihara
Bukti Pembauran Etnis Tionghoa :
Saat bertemu dan berbicara dengan Berry, seperti bertemu dengan seorang guru yang memperhatikan perilaku, perangai dan mencermati langsung setiap topik dengan detail. Eksistensi semua ras, suku dan agama di Indonesia sangat dihargainya.
Berry CWT, merupakan generasi ke-empat penerus warisan Cetia Vidya Kusuma menyatakan, proses asimilasi dan pembauran di segala lapisan masyarakat, hampir tidak ada masalah. Juga, dengan etnis Tionghoa. “Selama ini, di Sumut hal tersebut telah berjalan baik secara alamiah,” ujarnya.
Alumnus theologia agama Budha ini, termasuk Dewan pendiri Sahabat Centre. Cukup dikenal dalam kalangan etnis Tionghoa kota Siantar, karena kedekatannya dengan masyarakat. Tanpa melihat latar belakang suku, agama dan ras.
“Kedamaian dalam diri pribadi dulu. Masing-masing, keluarga, lingkungan dan masyarakat. Maka, terwujudlah kedamaian negara dan dunia ini” ujar Berry, mengeja prasasti yang ditulis Sangha Y.M.B. Jinadhammo Mahatera, di depan pintu masuk rumah ibadah.
Dalam penuturan singkatnya, Berry kerap mengkritisi berbagai persoalan kemasyarakatan. Bahkan, dia pernah dianggap menggugat orang Batak. Pasalnya, ketika itu dianya menyatakan keprihatinan terhadap eksistensi orang Batak, karena tidak appresiatif lagi dengan budayanya.
Saat itu, kata Berry seorang marga Sihotang di Samosir sangat marah, akibat kritikan pedas yang dilontarkannya. Tapi, ketika dijelaskannya kekhawatiran akan hilangnya budaya Batak itu, mereka kemudian mengerti. Bahkan, dirinya hampir diulosi, sebagai apresiasi dan lambang penghormatan tertinggi.
“Etnis Tionghoa telah banyak berperan dalam sejarah riwayat kehidupan bangsa ini, dan telah menjadi bagian di dalamnya. Tidak bisa dipisahkan, apalagi dipungkiri,” kata Berry.
Saat persiapan kemerdekaan, lanjutnya lagi, banyak pahlawan-pahlawan etnis Tionghoa yang tak dikenal. Juga, terdapat 5 tokoh yang sangat berperan dalam Sumpah Pemuda 1928. “Sumbangsih prestasi maupun pengorbanan untuk menjaga keutuhan serta mengharumkan nama bangsa dan negara ini di berbagai bidang, patut dicatat,” imbuhnya.
Contoh, sebut Berry perenang terkemuka tahun 50-an, Fu Ta Cin. Kemudian, pemain basket terkenal di Asia, Lie Yan Hui. Mereka ini, sangat tersohor di Asia. Keduanya kelahiran kota Siantar.
Pembauran lain antara etnis Tionghoa dengan pribumi di tanah Batak, terlihat cukup kental. Di Tobasa, bumi dalihan na tolu, nuansa kerukunan yang akrab terlihat dengan sangat harmonis. Masalah adat istiadat tidak pernah menjadi hambatan dan penghalang. Hidup rukun dan damai. Marsiamin-aminan. Marsitungkol-tungkolan (saling menopang dan saling bantu).
Bahkan, nenek kandung Berry sendiri, berasal dari keturunan ningrat Jawa dari Kraton Solo. “Semuanya membuktikan, bahwa etnis Tionghoa sudah lama membaur dengan pribumi” tandasnya.
Mungkin, selama ini menurut Berry, selalu ada isu tak berdasar yang menyudutkan. Seolah-olah etnis Tionghoa tidak nasionalis, eksklusif dan materialistis. “Anggapan tak berdasar ini kini sudah saatnya segera dihilangkan,” harapnya.
Kinilah saatnya membuka lembaran baru dan meluruskan segalanya demi kebaikan bersama ke depan, lanjutnya.
Ketua DPRD Siantar, Lingga Napitupulu Bc.Eng mengatakan, Berry merupakan sosok seorang guru, cendekiawan, sosiolog dan budayawan yang berpotensi di segala bidang. “Berbicara dengan Berry, bukan sekedar bicara. Tapi, harus melakukan pengontrolan diri, spirit (dorongan) dan spritualitas” sebutnya.
Dikatakan, jangan datang dengan membawa keangkuhan maupun kekuatan-kekuatan yang di luar kepercayaan kita masing-masing. Diakui, dirinya banyak belajar dari Berry yang kerap memberi sumbangan pemikiran. “Layaknya seorang guru, mengajarkan muridnya dengan sesuatu hal yang bermanfaat” katanya menggambarkan karakter Berry.
Termotivasi dari tekad dan semangat religius yang tinggi, dilatari amanah dan warisan yang perlu dikembangkan sebagai panggilan batin, leluhur Berry berhasil mendirikan sebuah rumah ibadah Cetia Vidya Kusuma. Dalam bahasa Tionghoa, disebut ‘Shien Fho Thang. Tempat orang Budha melakukan ritual keagamaan.
Sebagai sarana ibadah, banyak umat yang datang bermohon dan meminta berkat untuk didoakan ‘sang guru’. Tak kurang, sejumlah pejabat dan pengusaha kerap berkunjung menyambangi Cetia. Bahkan, Wakil Presiden Shanghai, Yang Kara Stawira Asin Jinarakiita Mahatera, pelopor dan pendiri agama Budha di Indonesia, berkunjung pada beberapa waktu lalu.
Berry menjelaskan, dalam Cetia terdapat berbagai patung Budha, Chan Tien She (Dewa Utama) dan Patung Kwankong sumbangan umat Budha dari Medan. Patung ini, terbuat dari tembaga murni, tingginya sekitar 2 meter. “Kwankong dikenal sebagai sosok jenderal setia. Berani membela kebenaran untuk mempertahankan rakyat dan negaranya”papar Berry.
Kwankong, sebut Berry, dianalogikan sebagai lambang kesetiaan budi dalam jajaran sangkong, sekitar 200 tahun silam. Sebuah relik Budha (sielic) tertinggi, jika dibandingkan relik-relik yang ada di sejumlah vihara di Indonesia. Bahkan merupakan relik tertinggi, selain relik di Negara Burma. Relik merupakan pertapa yang dibakar dan darahnya menjadi pasir berwarna/mutiara.
Penghayatan dan pengamalan makna saklar ‘Bhinneka Tunggal Ika’ perlu ditingkatkan. Terutama, bagi seluruh komponen anak bangsa. Karena hingga sekarang, masih ada persepsi ataupun penafsiran miring dengan makna tersirat yang sebenarnya.
Sangat disayangkan, banyaknya mereka yang belum paham. Sehingga, yang sering terjadi adalah mereka sering bertindak berlebihan. Hal tersebut sangatlah bertolak belakang serta berpotensi menganggu keharmonisan pluralisme masyarakat.
Filed under: Jurnal
Kita memerlukan keberanian yang luarbiasa besar saat ini untuk membela yang benar.
Imran Napitupulu :
Betul….
Sangat setuju dengan komentarnya, amangboru. Thank’s