Pesona Wisata Pemandian Air Panas Sipoholon

Ketika alam bercerita dan menuturkan kata-kata, ia mampu berbicara dalam seribu bahasa. Dan, semua kata tidak akan berarti apa. Pesona itu muncul, dari gelegak panas air belerang mendidih, ditimpali semilir angin gunung dari sebuah tempat pemandian (biasa disebut ‘aek rangat) di Sipoholon, berjarak ± 5 km dari kota Tarutung, ibukota kabupaten Tapanuli Utara. 

Perbedaan mencolok akan semakin terasa. Apalagi, saat memandangi kaki langit di ujung jalan. Panorama indah dari sekeliling bukit kapur, cukup mensuspenskan. Kekayaan alam yang sulit digambarkan. Konon, katanya air belerang, yang keluar dari panas perut bumi ini, menjadi maskot kota Tarutung. Terjadi akibat peristiwa alam, kejadiannya pada beberapa dekade yang lalu.

Sipoholon, kelurahan Situmeang – Habinsaran,  Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara, berada di pinggir kota Tarutung. Jarak tempuh dari ibukota kabupaten hanya butuh beberapa menit perjalanan. Sedangkan jika datang dari arah Balige, letaknya sebelum mencapai kota Tarutung. Seperti umumnya profil desa di Kabupaten Tapanuli Utara, daerah ini cukup maju dalam bidang pertanian dan home industri. Kawasan pemandian ini memiliki eksotisme, dengan pesona daya tarik tersendiri. Sayangnya, belum tersentuh industri pariwisata secara spesifik.

Pengelolaan kawasan pemandian air panas ini belum maksimal. Sehingga belum begitu banyak pengunjungnya. Wisatawan yang datang, masuk tanpa membayar retribusi. Padahal itu bisa diandalkan sebagai sumber PAD. Para wisatawan tersebut umumnya datang dari daerah luar kota berdekatan, seperti Balige, Siborong borong, Dolok Sanggul, dsb.

Adalah, J. Silalahi (38), seorang pengusaha yang mengelola pemandian air panas di Sipoholon ini. Diwarisi, dari orangtuanya K. Silalahi tua yang sudah pensiun. Silalahi muda merasa terpanggil, meneruskan usaha yang dirintis keluarganya. Tekadnya, ingin mengembangkan potensi pariwisata, lewat objek wisata pemandian air panas yang telah ditekuni secara turun temurun. Menurutnya, potensi pariwisata pemandian air panas ini sangat layak untuk dikembangkan.

“Bayangkan, kami bisa menghidupi keluarga dengan mencari nafkah dari hasil usaha yang sudah kami geluti sekian tahun, mulai dari generasi sebelumnya” ujar Silalahi. Sebab, berpeluang mengembangkan mata dagangan lain. Seperti, berjualan makanan. Menambah hasil perolehan dari jasa penyediaan tempat pemandian air panas. Khasiat air belerang ini, diyakini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Terutama, pengobatan penyakit kulit. Karena, kadar belereng yang terkandung dalam air panas. Berbagai aneka jenis makanan disediakan. Sangat cocok dinikmati, sehabis mandi. Biasanya, usai mandi, pengunjung akan cepat merasa lapar. Klop, jika bisa langsung bersantap. Menunya, masakan-masakan khas Batak.

Idealnya, pemerintah setempat sudah harus menyiapkan konsep pengembangan pemandian air panas ini, sebagai tujuan wisata minat khusus. Dengan membenahi sarana dan prasarana diperlukan. Sehingga, industri pariwisata Indonesia bisa terangkat kembali. Seperti saat Joop Ave menjabat sebagai Menteri Pariwisata. Kala itu, Indonesia identik dengan Bali. Bahkan, sempat muncul pameo, “Jangan mati dulu sebelum melihat Bali”. 

Agak berbeda, dengan penjelasan Camat Sipoholon, Drs. M. Siregar. Dikatakan, dalam meningkatkan potensi objek wisata, pemandian berjumlah 12 buah mengalami berbagai kelemahan, karena dikelola pihak swasta. Sebagai contoh, tingkat kesadaran yang minim dari pengusaha sebagai pengelola. Padahal, berkaitan dengan masalah kebersihan dan kerusakan lingkungan. Banyak hambatan yang diperolehnya, menyangkut rencana program pengembangan potensi pariwisata. Walau diakuinya, desa ini pernah mendapat juara II tingkat propinsi pada tahun 2002 – 2003.

Dari segi nilai estetika objek wisata ini belum dapat ditonjolkan. Kelemahannya, yaitu dalam hal penataannya. Banyak yang belum sesuai dengan kaidah tata ruang yang asri. Sebab, pengelolaannya didominasi pengusaha. Pemda sendiri tidak berbuat banyak. Penyuluhan lewat program sadar wisata seharusnya diterapkan. Sehingga, tingkat kebersihan lingkungan dapat lebih dipertanggung jawabkan..

Sebenarnya, kata Drs Jhoni Aritonang, Kepala Tata Usaha Dinas Pariwisata Taput, pihaknya sudah beberapa kali menghimbau para pengusaha yang mengelola. Bahkan, melakukan penyuluhan lewat program sadar wisata. Khususnya, kepada pihak pengusaha pengelola pemandian air panas Sipoholon. Kendalanya, pihak pengelola kurang menyadari sepenuhnya, bahwa untuk pengembangan industri pariwisata, butuh berbagai hal terpadu yang harus dijalankan secara simultan dan bersinerji. Sehingga, hasil yang dicapai bisa optimal.

Industri pariwisata objek pemandian air panas ini memang butuh sentuhan. Sebab, masih ada dijumpai bangunan, pengerjaannya terkesan tidak memperhatikan aspek mutlak yang harus diperhitungkan. Jika penataannya tanpa kaidah berdasarkan standarisasi arsitektur, hasilnya pasti tidak akan maksimal. Untuk itu, dinas tata kota maupun instansi terkait, perlu membuat kajian mendalam menyangkut hal dimaksud, sehingga objek pemandian air panas Sipoholon bisa lebih berkembang.

Leave a Reply