Pangaranto Bahas Kemajuan Pembangunan Tobasa
Pemkab Tobasa bersama Kelompok Peduli Pembangunan Bona Pasogit membahas berbagai kemajuan pembangunan lintas sektoral, Senen (25/5) lalu, di rumah Gustaf Panjaitan, Jalan Metro Pondok Indah Jakarta. Beberapa orang tokoh perantau asal Tobasa di Jakarta, beserta 100 orang alumni Sopo Surung hadir atas undangan TB. Silalahi.
Pertemuan tersebut, merupakan tindak lanjut yang mereka adakan sebelumnya di Tanah Abang. Tempatnya, di kantor SM. Tampubolon, putra Balige, mantan anggota DPR RI. Mereka sepakat mengadakan diskusi rutin, tentang berbagai hal yang akan dilakukan di bona pasogit.
Hadir Bupati Tobasa Monang Sitorus bersama anggota DPRD Tobasa Hasoloan Silalahi. Sekdakab Tobasa Liberty Pasaribu,SH, Ketua Bappeda Tobasa Ir. Tony Sitorus, Kepala BPKD Tobasa Ir. Albert Marpaung,MSi dan Assisten Ekonomi Pembangunan Drs. Krisostomus Siahaan serta Kadis Pertanian Ir. Horas Silitonga , MM.
”Kehadiran kami di Jakarta, untuk mengajak perantau dalam jumlah lebih banyak, agar berkenan berbuat seperti TB Silalahi. Juga, memberi masukan demi percepatan pembangunan Kabupaten Tobasa” ujar Bupati Monang.
Dijelaskannya, pembangunan yang telah dan sedang dilaksanakan mencakup 4 bidang yakni pertanian, pendidikan, kesehatan dan pariwisata. ”Tahap pertama di bidang pertanian, yaitu pengembangan padi hibrida bernas untuk tanaman sawah”katanya.
Untuk lahan kering, lanjut dia lagi, yaitu komoditi jagung. TB.Silalahi Center telah mengadakan pendampingan tenaga ahli untuk penerapan tekonologi pertanian dan penyediaan bibit unggul. ”Caranya, bayar panen”,jelas Monang.
Lahan kosong di wilayah Kabupaten Toba Samosir seluas 40.550 hektar termasuk untuk pertanaman jagung di lahan kering. ”Ternyata, hasil pendataan di lapangan, hampir 2/3 pemiliknya adalah anak rantau” kata Monang.
Rencana jangka pendek, sebutnya lagi, dengan melakukan upaya-upaya sebagaimana kesepakatan sebelumnya. Yaitu, mengadakan pelatihan pertanian dan pembuatan kebun percontohan. Juga, mendatangkan tenaga ahli dari pulau jawa.
Monang menambahkan, program jagung Pemkab Tobasa telah menjalin kerjasama dengan Pemprop Gorontalo. Yaitu, untuk pemasaran jagung dengan harapan harga jagung di Tobasa senantiasa memberi keuntungan bagi petani.
”Mudah-mudahan semua yang telah dan kita lakukan diberkati Tuhan. Akan berhasil baik, dengan harapan prestasi Tobasa dalam PDRD menjadi posisi tertinggi di kawasan dataran tinggi di Sumut tahun 2010”paparnya.
DR.TB.Silalahi yang hadir pada pertemuan tersebut, menginformasikan beberapa hal penting. Di antaranya, sejak awal pendirian Yayasan Soposurung, dianya selalu mengajak perantau untuk memberi perhatian ke bona pasogit. Hingga sekarang, hal itu selalu dilakukan. Khusus para alumni Soposurung, diharapkan dapat berkomunikasi secara teratur.
Di saat bangsa kita mengalami berbagai kesulitan, situasi dunia yang sulit atas keterbatasan minyak membuat para ahli memberi perhatian dominan dengan mengolah biji-bijian menjadi biodisel. Sehingga, perhatian terhadap pengembangan pangan terabaikan.
Silalahi mengembangkan penemuan bibit padi unggul. Kemudian, langsung diterapkan di Tobasa. Hasilnya cukup memuaskan. Semula, hasilnya 6 ton/ha meningkat menadi 11 ton/ha. ”Dulu, saat panen saya mengajak Mentan RI Anton Apriantono melakukan panen perdana. Mudah-mudahan tahun 2009, bona pasogit bisa ekspor beras”harapnya.
Sekilas diceritakannya tentang SMU Plus Soposurung. Sekolah yang menjadi model pertama di Indonesia. Kemudian, ditiru daerah lain. Walaupun tidak gratis seperti yang dilakukannya. Karena, di daerah lain semua bayar.
Pada akhir pertemuan yang digagasi alumni SMA Soposurung tersebut, Ketua Peduli Pembangunan Bona Pasogit S.M.Tampubolon menyarankan, agar kawasan Soposurung ditata dengan baik. Sehingga, menjadi suatu kawasan kampus Soposurung Balige.
(sumber : Humas Pemkab Tobasa)
Filed under: Jurnal
sesuai dgn yang di agendakan dalam pertemuan diatas membahas pertanian,pendidikan,kesehatan dan pariwisat. saya sebenarnya bukan anak TOBASA tapi saya berpikir punya kewajiban yang sama dgn semua orang jika menyangkut pembangunan. terlebih karena didaerah tobasa adalah bonapasogit saya. sesuai dengan latar belakang pendidikan saya sebagai seorang alumnus ahlimadia pariwisata saya lebih cenderung ingin meng eksploitasi lembah sungai asahan sebagai objek wisata yg berlatar belakang sport dan pertanianya. jd sekali lagi tlg dlm pertemuan berikutnya Pariwisatanya lebih di bahas mendalam dan salut buat para perantau yg masih ingat kampung halaman.
*****biar ampara bukan anak Tobasa, tapi Tobasa membutuhkan orang-orang seperti ampara. Terima kasih,… Horas.
Tolong sampaikan ke Bapak Monang Sitorus,
Lahan sawah yang sudah menjadi puso mulai dari Hutagaol turun ke Parsuratan ke Hutabulu dan Onan Sampang sampai sekarang masih puso karena tali air dari Pandumaan peninggalan Belanda sudah rusak dan tak pernah dipikirkan dan dicari solusi perbaikannya. Agri bisnis darahnya adalah air bung! makanya Arab-Israel berperang hanya untuk mendapatjkan air!!!. Jangan terlalu banyak berwacana, cari juga solusi biar rakyatnya boleh bayar pajak. Wassalam