Miniatur Hombung, Bukti Kecintaan Mario

Miniatur Hombung (tempat penyimpanan barang-barang berharga, yang terbuat dari kayu berbentuk box) hasil karya Mario Pasaribu siswa kelas 3 SMK Neg. 1 Laguboti, dipamerkan di Sitolu Ama, Kecamatan Laguboti Kabupaten Tobasa.

Hombung adalah salah satu tempat barang-barang berharga, seperti perhiasan, ulos dan berbagai benda pusaka lainnya, berbentuk box. Biasanya, terbuat dari kayu nangka (pinasa). Diukir bermotif gorga. Juga, bisa berfungsi sebagai dipan. Tempat tidur bagi pemiliknya. Ukurannya hampir sebesar tempat tidur tiga kaki.

Terdapat ukiran cecak di dalamnya, Ukiran ini melambangkan sifat orang Batak yang memiliki solidaritas tinggi. Dapat beradaptasi dengan lingkungan dimanapun ia berada.
Di depan cecak ada ukiran buah dada wanita. Memberi makna, sejauh manapun orang Batak merantau, berhasil atau tidak, akan selalu ingat dengan ibu dan bona pasogitnya. Di depan Hombung, terdapat ukiran yang disebut ‘Jaga Dompak’, Berasal dari kata ‘jaga’ (berarti berjaga-jaga) dan dompak yang berarti ‘hadap’

Mario Pasaribu (17 thn), mengukir miniatur Hombung, terbuat dari kayu Sotul. Hasil karya Mario lumayan bagus. Miniatur berukuran kurang lebih 30 cm tersebut, tadinya dia maksudkan untuk menyelesaikan tugas akhirnya sebagai siswa kelas 3 di SMK Neg. I. Laguboti. Kemudian, pada pembukaan pameran tugas akhir siswa tahun ajaran 2007/2008 dipamerkan. Bupati Tobasa Drs.Monang Sitorus, merasa tertarik. Kemudian, membayarnya seharga Rp.1 jt. cash.

Menurut Bupati Monang, dirinya merasa tertarik dengan karya Mario. Sebab, sudah jarang orang muda yang meminati benda-benda peninggalan budaya Batak. Atas ketertarikannya, miniatur Hombung yang dikerjakan Mario selama hampir 2 bulan itu, kontan dibayarnya.
Didampingi ibundanya boru Marbun (378) penduduk desa Haunatas, Kecamatan Laguboti (dekat rumahnya Ompu si Magda boru Pasaribu), Mario menceritakan cara pembuatannya. Pekerjaan pertama, dimulai dengan memilih kayu yang cocok dan sesuai. Kemudian, dengan mempergunakan alat-alat sederhana seperti kapak, pisau ukir dan pahat, proses pengerjaannya dilanjutkan. Diakuinya, butuh kesabaran dan ketelitian guna mendapatkan kualitas pekerjaan bermutu. Hasil karya Mario yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara ini, memang tidak mengecewakan. Bahkan, tergolong bagus.

Boleh jadi, ibarat seorang empu pembuat keris yang tersohor karena kesaktiannya, Mario akan menjadi ‘empu’ yang mewakili orang muda dari sekolahnya menunjukkan kemampuan yang dimiliknya.

Sebagai seorang tukang ukir di atas kayu pahat bernama miniatur Hombung, Mario yang hari ini, sedang menyelesaikan tugas akhir sekolahnya, mendapatkan kesempatan menghasilkan maha karya sekelas master piece. Walau hanya dihargai Rp. 1 jt.

Dalam mengikuti upacara adat Batak, terdapat acara ‘ungkap hombung’. Kurang lebih pengertiannya, yaitu membuka / menunjukan isi hombung kepada paman (Tulang). Misalnya, jika orang tua pemilik hombung meninggal dunia. Setelah dikebumikan, maka pada sore / malam harinya, diadakanlah upacara ‘ungkap hombung’.

Hal ini terlihat, jika seseorang yang meninggal tersebut sudah memiliki cucu. (marpahompu di Anak, marpahompu di Boru). Juga, semua anaknya sudah berumah tangga. Disebut, “saur matua”. Pada saat acara adat berlangsung, diberikanlah amplop berisi uang, sebagai ungkap hombung, serta piso-piso sama Hula-hula dan Tulang.

Karenanya, ‘hombung’ yang memiliki makna cukup luas dan berarti tersebut, perlu mendapat apresiasi. Penggunaannya begitu penting bagi orang Batak. Semenjak dulu, hingga masa sekarang, berkait dengan upacara adat istiadat. Dan, lahirnya, Mario-Mario lain yang menunjukkan kecintaannya terhadap budaya Batak, sangat kita nantikan. Bravo, Mario…

Leave a Reply