Masih Layakkah Mereka
Selalu saja, ketika pemimpin (uluan) berganti, ‘rakyat menunggu’. Menaruh harapan besar akan terjadinya perubahan. Seperti teori Alvin Toffler. Perubahan niscaya akan menghasilkan perobahan.
5 tahun lalu, saat digelarnya pesta demokrasi Pemilu, menghasilkan 25 anggota DPRD terpilih. Mereka duduk di kursi legislative, bertugas untuk mengayuh perahu besar Tobasa. Rakyat menggantungkan harapannya. Hampir 120 ribu rakyat berharap, ke-25 anggota dewan yang terhormat itu akan membawa perobahan menuju perbaikan kehidupan lebih baik.
Akan tetapi, (rasa-rasanya) hasilnya, tidak terlalu banyak berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebab, (mereka) wakil rakyat tersebut, kurang menunjukkan keberpihakannya terhadap kepentingan rakyat. Banyak di antara mereka bertindak aneh-aneh. (rasa-rasanya) aneh, tapi nyata.
Memang. Itulah implikasi hasil Pilkada. Ketika kita diberi kesempatan menentukan pilihan paling tepat menurut kata hati, berdasarkan suara nurani. Beberapa bulan mendatang, pesta demokrasi akan digelar kembali. Itu berarti, harapan dalam menyongsong perobahan lebih baik bisa dibayangkan kembali.
Caleg dari berbagai ‘latar belakang’ bermunculan. Ada politisi, preman, kontraktor, mantan PNS, pengusaha, bahkan petualang. Ada yang kejar paket “C”, ada yang bagi-bagi pupuk, KTP gratis, dll., Mereka berceramah di depan rakyat, tentang rumus umum demokrasi. “Dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat”, kata mereka berapi-api. Tetapi realitanya, (boleh jadi) fungsi rakyat hanya sebagai korban hegemoni kepentingan.
Rakyat hanya diberi kesempatan menggunakan hak pilihnya pada saat pemilu saja. Setelah itu, suara dan kehendak rakyat tidak berhak menentukan perjalanan sejarah bangsa ini, bahkan perjalanan kehidupannya ke depan.
25 Anggota DPRD Tobasa :
· Baktiar Tampubolon
· Boyke Pasaribu
· Dudung Simanjuntak
· Firman Pasaribu
· Hasoloan Silalahi
· Herbert Sibuea
· Jonggara Manurung
· Mangapul Siahaan
· Mangatas Silaen
· Marisi Tambunan
· Maruahal Napitupulu
· Parade Manurung
· Pardomuan Tampubolon
· Sabam Simanjuntak
· Sabar Silalahi
· Saut Parulian Gurning
· Tagor Hutapea
· Tumpal Sitorus
· Undan Sitinjak
· Viktor Pane
· Walton Silaen
Filed under: Jurnal
Kasihan masyarakat harus selalu dibohongi dan mimpi manis dalam tiap kampanye. Masyarakat hanya jadi mainan para legislatif. Atau memang jabatan Legislatif hanya ladang uang dan kekuasaan untuk unjuk kehebatan ???
Kita tidak bisa menyalahkan kalau suatu saat nanti rakyat bersikap apatis dan dalam suatu pemilihan umum maka Golput yang menang, karena tidak ada lagi kepercayaan dari masyarakat kepada pemimpinnya. Jadilah seorang wakil rakyat yang melayani rakyat bukan dilayani rakyat…..
@ Farida Simanjuntak,
Makasih untuk semua komentarnya, bere. Banyak yang telpon dan nanya ke Tulang. “Emang, mau jadi anggota Dewan ?“tanya-nya. Jawab Tulang, ‘Tidak’.
Tulang hanya mencoba menuliskan apa yang Tulang lihat, Tulang dengar dan Tulang pikir pantas untuk dituliskan. Alana, hira gabe godang angka ‘caleg-caleg’ i merasa gerah. Hurang disadari nasida, rakyat Tobasa sudah sangat cerdas, dan cukup kritis. Tidak mudah lagi dibodohi.
Horas…
Aku hanya ingin bertanya.
Mana lebih tehormat Presiden dari Wakilnya?
Selanjutnya Gubernur dengan Wakilnya dan Bupati dengan Wakilnya?
Kalau Rakyat dengan Wakilnya siapa yang lebih terhormat………..???????
Rakyat memang bodoh tapi makin dibodohi lagi oleh wakilnya….walah…walah pirang taon mene rakyat iki marsiak bagi nagkene?
dari 25 anggota dprd tobasa periode 2004-2009, yang masih aktif maupun yang sudah PAW tidak satupun yang layak dipilih kembali dilihat dari sepak terjang selama ini, dan harus diganti dengan yang muda, pintar dan cerdas, bukan sekelompok pengecut yang hanya memikirkan dirinya sendiri. untuk itu, dihimbau seluruh masyarakat tobasa jangan pilih ke 25 anggota dprd tersebut.
Udah waktunya juga kita memberikan KESEMPATAN kepada mereka yg nantinya terpilih untuk menjalankan kewajibannya masing2
Lae Manik, apakah selama ini mereka tidak diberi kesempatan?
@ Leo Siagian
Seandainya ke 25 anggota DPRD Tobasa periode 2004-2009 diganti dengan yang muda-muda dan menurut anda pintar dan cerdas ada jaminan bahwa ahlak dan moral mereka dapat di pertanggung-jawabkan? Justru saya melihat para bacaleg saat ini banyak yang berlatar belakang dari preman tapi banyak duit,apakah ini yang anda maksud? sibodoh sekalipun tau bagaimana nanti cara mereka untuk mendapat suara agar dapat duduk jadi anggota DPRD yang terhormat itu……yaalaaahhh.
bung sibodoh yang terhormat, yang bilang ada jaminan ahlak dan moral mereka yang muda-muda dapat dipertanggung jawabkan siapa, yang nyuruh milih preman siapa, kan anda, yang saya mau tegaskan jangan pilih yang 25 anggota dprd sekarang, karena memang terbukti tidak mampu dan tidak layak selama ini mereka duduk disana, soal siapa yang mau anda pilih terserah, lihat dong moralnya juga jangan yang brengsek, tetapi yang pasti yang 25 orang itu, saran saya jangan pilih ok
Mungkin lae Imran bisa membuat “curiculum vitae” ke 25 anggota yang sekarang, syukur kalau dapat juga yang bacaleg. kan partai-partai sudah menyetorkan calon-calonnya. Tampilkan CV nya secara lengkap di blog ini, dan sebarkan juga ke warga Tobasa.
Dari “track record” mereka, bisa diketahui kualitas dan kapasitasnya.
Tapi tidak gampang bikin curiculum vitae yang lengkap, artinya sampai kebiasaan dan perilaku masing-masing. Kalo moral, apa ya ukurannya, misalnya menentukan si A moralnya baik, si B tidak. Bagaimana CARA mengukur moral yang bisa diterima oleh banyak orang.