Marhata, Warisan Budaya Kurang Diminati
Marhata, di dalam masyarakat Toba, memiliki arti dan nilai tersendiri untuk tiap upacara yang berlaku. Termasuk di dalamnya, berbicara menyampaikan pendapat yang diidentikkan sebagai suatu jambar.
Umumnya, halak Batak memiliki cara berpikir ekspresif. Sanggup adu argumen berdasarkan hal-hal yang rasional. Cukup tegas dan sedikit agak keras. Termasuk, ketika menyampaikan pokok-pokok pikiran ataupun ide yang hendak dikemukakan. Mungkin, itulah penyebabnya, sehingga banyak orang Batak berprofesi sebagai pengacara. Pokrol. Raja parhata. Setiap permasalahan biasanya terselesaikan lewat pembicaraan, melalui pendekatan unsur-unsur Dalihan Na Tolu. Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.
Saat persemian T.B. Silalahi Centre beberapa waktu lalu, digelar sebuah acara guna memperkenalkan budaya adat Batak. Memang, sesuai visi dan tujuannya, tempat ini merupakan pusat pelestarian nilai-nilai adat Batak. Sekaligus, upaya membentuk karakter masyarakat. Terutama, generasi muda sebagai tunas bangsa.
Acara tersebut, dihadiri banyak tokoh-tokoh besar. Di antaranya, Parlindungan Purba, SH, MM (anggota DPD RI), Adian Silalahi (mantan Dubes RI untuk Perancis dan Brazil), Dr. Sutan Manurung (Dubes RI untuk Argentina) dan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea,SH serta sejumlah undangan lainnya. Juga Bupati se-kawasan Tapanuli. Yakni, Tobasa, Tapanuli Utara, Humbahas dan Samosir.
Di depan sebuah rumah Batak, dekat convention hall, sekelompok anak muda pelajar menggelar rangkaian acara tortor. Walau tergolong masih sangat belia, namun kelihatannya mereka cukup sempurna dalam mempersembahkannya. Penuh penghayatan, dari setiap geraknya. Apalagi, ulu tortor yang maminta gondang, seorang anak muda remaja. Begitu fasih, lancar dan teratur merangkai bahasa umpama, sewaktu maminta gondang kepada pande.
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI Letjen TNI (Purn) DR TB Silalahi SH mengaku sangat terharu, karena masih ada generasi muda di Kabupaten Tobasa yang masih mampu melakukan atau mendemontrasikan tata cara adat Batak Toba. ‘Maminta’ gondang melalui umpama dan umpasa dalam bahasa Batak. Hal tersebut diungkapkan sang jenderal.
Kita sama-sama tahu, budaya Batak sangat sulit untuk dilestarikan. “Tapi, setelah melihat bakat dan penampilan generasi muda yang menggelar acara tortor hari ini, memberi pengertian kepada kita, bahwa sebenarnya generasi muda sekarang masih dapat diandalkan untuk lebih memahami dan mencintai budaya kita,” ungkap DR TB Silalahi, yang mengaku dirinya terkesan dengan cara “maminta” gondang tersebut. Sebab, sarat umpama dan umpasa yang bermakna sangat dalam. “Terus terang, saya saja tidak sanggup lagi untuk maminta melalui umpasa,” katanya.
Kemampuan maminta gondang, hampir tidak beda dengan keahlian merangkai kata dalam umpama dan umpasa saat acara marhata. Sebab, dalam berbagai acara menyangkut adat, biasanya diawali acara marria. Saat ‘marria’ dibicarakan berbagai hal. Dengan marhata. Seluruh rangkaian acara adat yang digelar, diawali dengan marhata. Juga, diakhiri acara marhata.
Menurut TB Silalahi, bahasa Batak termasuk 13 besar bahasa daerah yang masih tetap digunakan oleh sedikitnya 1 juta jiwa. Sesuai data nasional, dari 746 bahasa daerah yang ada di Indonesia, sebanyak 733 bahasa daerah dikhawatirkan punah. Karena, masyarakat pengguna bahasa itu sangat sedikit. “Yang kita syukuri bukan jumlah penggunanya 1 juta. Tapi, ternyata generasi muda masih banyak yang menggunakan bahasa tersebut,” katanya.
Orang Batak beranggapan, Siboru puas siboru bakkara. Lugas, tegas dan tuntas. Itu juga penyebabnya. Dalam hal berekspresi, melemparkan sebuah kritik atau protes, biasanya disampaikan secara langsung. Mungkin, maksudnya agar orang yang ditegor menyadari kekeliruannya. Kekritisan cara berpikir berdasarkan hal-hal yang rasional mencirikan karakteristik penuh percaya diri. Berani dan mampu menunjukkan perberbedaan pendapat, serta mengemukakan sesuatu secara terang dan jelas.
Meskipun modernisasi telah menyentuh berbagai aspek kehidupan dari masyarakat Batak, hendaknya jangan di interpretasikan sebagai westernisasi. Sebab, jika hal ini berketerusan, dikhawatirkan bisa memudarkan nilai-nilai budaya Batak itu sendiri. Terutama, jati diri generasi muda di masa mendatang. Boleh jadi, mereka malu menggunakan bahasa Batak. Tidak mengerti tata cara marhata, dsb. Semuanya, merupakan cerminan degradasi budaya.
budaya memang patut di lestarikan om iman!
kalo bukan kita ya mau siapa lagi
salut juga buat orang batak yang karakternya keras, dan sering di gunakan untuk membantu kaum lemah!
salut juga buat budaya batak yang masih tetap lestari, dan tidak terpengaruh dengan budaya luar!
Imran Napitupulu :
Matur nuwun, mas Ridho. Mauliate dalam bahasa Batak.
Assalamualaikum….wrwb…..Menurut Saya Bapa Tua; Tidak di minatinya MARHATA sekarang ini oleh org kita batak karena tidak adanya integrasi yang menghubungkan Budaya dan Pendidikan. Maksud Saya BApa tua harus ada lah satu Bidang studi yg selalu membahas Tentang Budaya Kita. Kalau bisa di mulai dari Sekolah dasar. Atau kalu tidak memungkinkan Kita buat aja sebagai Ekskul.spy Budaya kita tidak hilang termakan Zaman. Apapun ceritanya semua Bangsa atau Orang batak bertanggung jawab dengan budayanya ya termasuklah Marhata itu. Menurut Saya Bapa Tua dari Marhata tadi bisa juga kita jadikan sebagi mencari Bibit2 Pengacara kita untuk masa depan. Karena Pengacara2 Orang Batak yang ada sekarang sudah pada tua dan perlu Regenerasi. Gitu aja lah Bapa Tua……nnt kebanyakan Ngomong dibilang pulak kita tukang Kombur. Mauli ate ya Bapa Tua…..
Raja Parhata pada jaman dulu bukan sekedar pintar mengemukakan pendapat. Pada jaman itu ada istialahTuan, Guru, Appa. dll kesemuanya adalah Par-Malim manang Parbaringin. Malim berarti orang saleh dan relatif suci. Sekarang ini nunga godang hallang simakkudap ni jolma ala holan nagedug nama diulahon. Apa boleh buat karena perubahan jaman dari pola Agrikultural Tradisional (dekat dengan alam) berubah menjadi tradisi merkantilis (dagang yang ada akal-akalannya). Tonggo-tonggo jaman dulu tidak sekedar ucapan atau hiasan kata-katam tapi dari sanubari yang paling dalam dengan menghormati sahala ni ompu. Mudah-mudahan makin banyak orang Batak yang mencari kembali Sahala ni Ompuna biar tidak hallang simakkudapnya. Sekarang orang lebih suka Assalamu walaikum …. Syaloom, Salam Sejahtera -biar kelihatan agamis. Horas Tondi Madingin!!!