Mengolah Limbah Jadi Rupiah
Setelah kopi dipanen, kulitnya dikupas. Kemudian, bijinya dijemur. Biasanya, kulit kopi kecoklatan yang dipisahkan dari biji-biji kopi tersebut akan dibuang begitu saja.
Atau, paling tidak kulit kopi yang dipisahkan dari biji itu tadi dikumpulkan. Lalu, dibiarkan hingga busuk. Selanjutnya, ditaruh di sekeliling pohon kopi. Maksudnya, sebagai pengganti pupuk yang bertujuan untuk menyuburkan tanaman. Umumnya, hal seperti itulah yang sering dilakukan petani kopi.
Berbeda dengan yang dikerjakan oleh Monang Simanjuntak dan M. Sianipar, pegawai Instalasi Pengkajian Teknologi Pertanian (IPTP) di Gurgur-Balige, berjarak sekitar 10 km dari ibukota Kabupaten Tobasa. Ke-dua orang Pegawai Negeri ini, dibantu beberapa rekannya yang lain, mengolah limbah kopi tersebut menjadi pakan ternak kambing. “Perlu ditambahkan beberapa masukan bahan lain untuk pengolahannya. Setelah itu, baru bisa diberikan sebagai makanan bagi ternak kambing,” ujar Simanjuntak.
Dikatakan, untuk mengolahnya menjadi 1 paket makanan ternak kambing, diperlukan 30 kg kulit kopi. Kemudian, dicampurkan 9 ons pupuk urea dan sebanyak 3 kg molases (gula tetes). Selanjutnya, dimasukkan wadah plastik dan diikat rapat. “Cara membuatnya tidak rumit. Bahkan, sangat sederhana malah. Sebab, tidak perlu menggunakan alat-alat laboratorium yang khusus” jelas Simanjuntak.
Hanya saja, kata Sianipar, agak sulit untuk mendapatkan molases dimaksud. Sebab, selain harganya yang lumayan mahal, juga hanya ada di tempat tertentu saja. “Disanalah, kendalanya. Karena, molases biasanya digunakan juga sebagai bahan baku kecap. Itu barangkali penyebabnya, sehingga harganya pun jadi mahal”terang Sianipar.
Hasil temuan ini, lanjut Sianipar, berawal ketika beberapa orang Staf Peneliti dari Balai Penelitian Ternak Sei Putih berkunjung ke IPTP Gurgur-Balige. Seorang diantaranya bermarga Manihuruk, membuat eksperimen. Dengan bahan dan metoda seperti perlakuan yang sama. Hasilnya, bisa bermanfaat, menjadi makanan ternak kambing. “Dulu, mulanya mereka hanya mencoba. Ternyata, sukses. Sekarang, kami sering dapat order untuk menyediakannya dalam jumlah yang lumayan banyak. Sebab, makanan ternak ini cukup lama daya simpannya. Bisa digunakan, serta tahan hingga 2 tahun”imbuhnya.
Menurut Kepala INPTP Gurgur-Balige, Jintamin Saragih, SP, kegunaan molase (gula tetes) dimaksud, yaitu untuk proses fermentase. Molases ini berasal dari gula tebu. Gula tebu yang diolah, dipilah-pilah. Sesuai kualitas dan kegunaannya. “Yang digunakan untuk proses pembuatan pakan ternak ini, mungkin berasal dari grade yang sedikit lebih rendah. Dan, memang agak sulit memperolehnya” ujar Saragih
Jejak langkah pendekar-pendekar pertanian dengan inovasi baru teknologi yang berdaya guna seperti ini, patut ditiru. Sebab, mereka mampu merobah sampah jadi rupiah.
Filed under: Jurnal
Molases itu sebenarnya kan bakteri untuk mempercepat fermentasi. Proses yang dibuat Simanjuntak itu kayaknya mirip komposting. Menurut pengalaman kawan-kawan yang mendalami komposting, setelah bakteri itu dikembangkan dengan kulit kopi, sebenarnya sudah tumbuh bakteri baru.
Jadi rasanya tidak perlu setiap saat pakai molases.
Campuran kulit kopi dan molases yang sudah jadi, bisa digunakan sebagai “starter kit” untuk kulit kopi yang lain. Itu pendapat saya, mungkin mereka yang mendalami bakteri fermentasi bisa memberi informasi lebih baik.
Imran Napitupulu :
Terima kasih, Lae Togar Silaban