Jangan Babat Hutan Toba
…….. paradigma baru PT. TPL hanya sebatas slogan
Kehadiran industri besar PT.Toba Pulp Lestari (TPL) dulunya PT. Inti Indorayon Utama (IIU), semestinya bisa membawa perobahan ke arah lebih baik bagi kehidupan masyarakat Porsea. Dampak positif yang diharapkan, terutama untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta membantu tercapainya kesejahteraan warga di sekitar pabrik yang berlokasi di Sosorladang, berjarak sekitar 10 km dari ibukota kecamatan Porsea.
Namun, beberapa warga masyarakat Porsea saat ini sangat meragukan niat baik PT. TPL. Bahkan, ada di antara mereka sempat merencanakan demo. Pasalnya, paradigma baru yang ditawarkan pabrik penghasil bubur kertas ini, realisasinya sungguh sulit diyakini. “Paradigma baru yang mereka dengung-dengungkan, hanya sebatas semboyan,” kata Berlin Simanjuntak (57), warga masyarakat Porsea. Dikatakan, kondisi kota Porsea saat ini terkesan kumuh dan sangat menyedihkan. Sebab, warga Porsea hampir tidak merasakan nilai tambah yang menguntungkan atas kehadiran industri raksasa yang telah berganti nama menjadi TPL. Program yang dituangkan dalam paradigma baru yang disebut-sebut, termasuk akan memperindah kota Porsea, tidak lebih dari pepesan kosong. “Pihak TPL telah meremehkan masyarakat Porsea. Perusahaan ini hanya umbar janji dan kebohongan. Tak pernah terlihat adanya sentuhan pembangunan yang diberikan pabrik raksasa ini”, tukas Berlin.
Menurut Simanjuntak yang akrab disapa dengan sebutan ‘Balluk’ ini, rasa muak warga Porsea atas janji-janji muluk yang ditebar TPL, sudah saatnya disuarakan. Dirinya menyatakan siap berada di baris depan. Demi memperjuangkan hak untuk kebaikan dan kesejahteraan bagi warga desa ‘bona pasogit’nya. Tidak ada tendensi lain tertentu. Sangat disesalkannya semua program yang dicanangkan, selalu mengatas namakan keberpihakan terhadap masyarakat Porsea. Kenyataan yang terlihat sampai saat ini, tak satupun janji yang mereka umbar terealisir.
Management yang diterapkan PT TPL, lanjutnya lagi, hampir sama dengan apa yang diperbuat Indorayon. Balluk mengaku, dulu dirinya pernah berbuat banyak dalam memberikan pengertian kepada masyarakat. Menyangkut dampak positif yang mungkin bisa diberikan pabrik penghasil pulp besar bagi masyarakat. Tentu, jika semua berjalan sesuai prosedur berdasarkan kesepakatan menguntungkan bagi semua pihak. Minimal, terbukanya lapangan kerja serta sistem mata rantai bisnis dengan keuntungan menjanjikan.
Hal tersebut pula mengakibatkannya menjadi orang yang paling banyak menderita karena tersiksa sebagai korban yang disakiti, saat memperjuangkan TPL dibuka kembali. Terlalu mahal nilai yang harus dia bayar untuk perjuangan yang dilakukakannya. Menjadi korban dari kelompok yang tidak sepaham. Dianya merasa sangat kecewa. Terutama, jika memperhatikan kebijakan yang diterapkan TPL yang sama sekali tidak bersinggungan dengan kepentingan masyarakat Porsea sekelilingnya.
Ketua I Persatuan Masyarakat Porsea Sekitarnya (PMPS) ini menjelaskan, banyak program yang dicanangkan dalam paradigma baru TPL, tidak satupun hasilnya menyentuh kepentingan masyarakat. Termasuk Comunity Development (CD) yang realisasi pelaksanaannya tidak pernah dinikmati masyarakat. Baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun pertanian.
Sebagai contoh, lanjut dia lagi pemberian bantuan ternak sapi kepada masyarakat. Sapi yang disalurkan, tidak produktif. Tidak berkembang, serta tidak menguntungkan. “Mungkin TPL perlu membandingkan dengan bantuan yang diberikan di daerah Garut - Jawa Barat. Di sana, susu yang diproduksi bisa memberi untung yang cukup menjanjikan bagi pengusaha ternak sapi” jelasnya.
Menyangkut masalah kesehatan yang berkait dengan kelestarian lingkungan, kata tokoh yang selalu concern memperjuangkan nilai-nilai yang hakiki bagi kemaslahatan masyarakat ini, dianya mengharapkan agar pihak TPL sebaiknya bisa berobah sikap. Harus lebih peduli dengan kesehatan masyarakat Porsea. Juga, menyangkut masalah polusi dan bau menyengat yang ditimbulkan pabrik, agar lebih diperhatikan secara serius. Terutama, harus mampu menjaga dan melestarikan ekosistem. “Jangan babat hutan Toba dengan sembarangan”tegasnya.
Argumen yang dijelaskan Balluk memang cukup beralasan. Sebab, jika dicermati kayu yang diangkut truk-truk loging TPL, kemungkinan berasal dari sembarang ukuran. “Tidak terlihat adanya pengawasan. Sehingga, tidak pernah diperhatikan diameter kayu yang layak ditebang. Kadang, ukuran-ukuran kecil sudah ditebangi” ujarnya, sembari menambahkan jika diamati umumnya loging yang mengangkut kayu selalu ditutupi tenda. Akibatnya, masyarakat tidak bisa melihat secara nyata dan transparan muatan truk.
Tidak ada kesempatan masyarakat berpartisipasi, minimal lewat pengawasan. Tidak tertutup kemungkinan adanya muatan lain, selain kayu eucalyptus yang menjadi bahan baku pulp.
Ditinjau dari segi keselamatan selama pengangkutan hingga sampai di pabrik TPL, menurut Balluk perlu diperhatikan lebih seksama. Utamanya sistem keamanan transportasi. Kayu balok ukuran besar yang dimuat, idealnya harus diikat menggunakan rantai yang sesuai. Sehingga tidak ada kekhawatiran timbulnya kecelakaan tak terduga akibat kelalaian atau keteledoran pihak tertentu. “Artinya, jangan sampai memakan korban dulu, baru dicermati. Apalagi, umumnya kenderaan loging melintas saat kenderaan umum mengangkut anak sekolah sedang lewat. Tindakan preventif perlu dilakukan. Periksa dengan teliti, apa muatan kayu yang diangkut sudah terikat rapih dan aman” tandasnya.
Hal senada ditambahkan Pengurus Forum Komunikasi Putra/i Purnawirawan (FKPP) Tobasa, Kansas Tampubolon. Dikatakan, seyogyanya pihak Dinas Perhubungan harus lebih memperhatikan muatan tuk-truk loging dimakud. Terutama menyangkut masalah kesesuaian tonage angkutan. Juga, segi keamanannya agar tetap terjaga dan ‘safety’. Terkadang, pengendara speda motor cukup khawatir. Mereka sering takut, karena ragu melihat muatan loging tersebut. Jangan-jangan, balok kayu akan jatuh dan tumpah menimpa pengguna jalan. “Hal tersebut perlu dicermati, untuk langkah antisipasi. Apalagi, lintasannya sepanjang jalinsum”imbuhnya.
Camat Porsea, Drs Adu P. Sitorus membenarkan, adanya terdengar keluhan warga masyarakat Porsea, sekaitan program paradigma baru TPL yang tidak dilaksanakan. Khususnya kepada mitra kerja yang dijanjikan. Makin lama makin dikurangi. “Pihak TPL harusnya lebih memperhatikan warga Porsea” ujarnya seraya menambahkan kiranya mereka lebih memprioritaskan generasi muda masyarakat Porsea. Tentunya, sepanjang memenuhi persyaratan dalam bermitra. Akan sangat berguna, terutama untuk mengurangi tingkat pengangguran. Bahkan jika diperlukan, pihaknya siap memfasilitasi dan menjamini warganya. Dengan demikian, mitra tertentu yang berasal dari luar dapat dikurangi. Warga masyarakat Porsea perlu diberi prioritas.
Ketika hendak dikonfirmasi, salah seorang jajaran direksi TPL, Leo Hutabarat SE terkesan agak enggan berkomentar. Dengan alasan hendak mengikuti rapat, dianya berjanji akan menghubungi belum diperoleh informasi lebih jauh dari Humas TPL.
Filed under: Jurnal
Ai adong do tahe hutan Toba? Adakah yang namanya hutan Toba? Yang kutau danau toba yang ada.
Imran Napitupulu :
Molo huhilala hira adong do. Alana, pangantusionku hutan tar hira sarupa ma i tu harangan na adong di Toba on
Mauliate, Lae.-