Di Tobasa, Jagung Jadi Primadona

Komoditi Jagung menjadi primadona dalam pembangunan pertanian di Tobasa. Peningkatan produktivitas, akan diarahkan  melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Pembukaan lahan tidur menjadi lahan produktif, pengggunaan bibit-bibit unggul dan  pemanfaatan teknologi tepat guna. Kadis Pertanian Tobasa Ir. Horas Legius Silitonga, MM, mengatakan, ada 7 pola yang diterapkan dalam strategi pengembangan dan peningkatan tanaman jagung. Yakni, pola swadaya, pola partial, pembinaan keproyekan dinas, pola kemitraan (fasilitasi kelompok tani), pola kebun binaan dan pola investor serta proteksi harga.

Pola swadaya, yaitu peningkatan intensitas penyuluhan oleh PPL dan sosialisasi prospek pertanaman jagung, supaya petani lebih bergairah. Juga, menghimbau pemilik lahan kosong agar rela lahannya dikelola orang lain, tanpa mempengaruhi status hak tanah. (na di ranto parhauma tano, di huta parhauma gogo).

Pemberian bantuan benih hibrida gratis, komposit dan alat pengolahan lahan. Yaitu, 14 unit traktor di tiap kecamatan serta alat pasca panen conseller kepada kelompok tani. Termasuk bantuan pengolahan lahan sebesar Rp. 250.000,-/ha untuk lahan seluas 3.000 ha, dikategorikan sebagai pola partial.Pembinaan melalui keproyekan dinas. Melaksanakan demplot, denfarm dan pembinaan penangkar benih. Juga, membangun SILO sebagai penampungan untuk prosessing, kemudian dipasarkan lewat GAPOKTAN. Selanjutnya, menumbuh kembangkan industri makanan serta pakan di daerah.Memfasilitasi kemitraan kelompok tani dengan Yayasan DEL, termasuk dengan distributor pupuk dan pestisida, melalui pola kemitraan.

 kadis pertanian

Pola kebun binaan, dengan mewajibkan semua kepala sekolah melaksanakan penanaman serta menghimbau semua pegawai (PNS dan Non PNS) agar bertanam jagung.

Mengajak dan memberi kemudahan pihak swasta. Melakukan MoU dengan PDC.International PTE.Ltd Singapore untuk berinvestasi dan membuat MoU dengan Pemprop. Gorontalo, membangun jejaring informasi pemasaran dan teknologi pengembangan. Termasuk studi banding antar 2 daerah.Melakukan proteksi harga, dengan menyediakan anggaran APBN melalui LUEP untuk menyangga harga dan APBD melalui koperasi.

Bupati Tobasa Monang Sitorus mengatakan, areal seluas kurang lebih 40.500 ha di Tobasa, diharapkan akan mampu memberi sumber pendapatan bagi 85 persen penduduk Tobasa yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Diakuinya, budidaya padi dan jagung menjadi prioritas utama untuk dikembangkan.  

Masalah pengembangan jagung, di antaranya, kepastian lahan dan permodalan petani. Ditambah lagi, kurangnya ketrampilan petani dan minimnya usaha-usaha industri pengolahan pangan. Kemudian, kurangnya angkatan kerja.

Menurut Kepala Bappeda Sum. Utara, kondisi perekonomian provinsi Sum. Utara cukup menggembirakan. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya kinerja beberapa indikator ekonomi. Secara kumulatif, mencapai hingga 6,94 persen atau naik sebesar 0,76 persen dari tahun 2006 sebesar 6,18 persen.

 

Revitalisasi pertanian dalam arti luas, dengan mengoptimalkan peran unit pelaksana teknis (UPT)/Balai di daerah-daerah. Melalui pemberian saprodi, yaitu pupuk, bibit, teknologi dan optimalisasi sektor pertanian secara langsung.

 

Kinerja pembangunan yang dilakukan pemerintah kabupaten Tobasa tahun 2006 cukup baik. Meski, pertumbuhan ekonominya berada di bawah provinsi Sum. Utara, yakni 5,11 persen. Akan tetapi, angka indeks pembangunan manusia (IPM) yaitu 75,2 melebihi angka IPM Sum. Utara yang hanya 72,0. Angka tersebut menggambarkan tingkat kualitas hidup masyarakat menyangkut pendidikan, kesehatan dan tingkat kesejahteraan telah cukup baik di kabupaten Tobasa.

           

One Response to “Di Tobasa, Jagung Jadi Primadona”

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut. Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an pada saat Indonesia swasembada pangan. Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) yang sedang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam budidayanya.
    Petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI, SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    omyosa,
    papa_260001527@yahoo.co.id

    Imran Napitupulu :

    Terima kasih. Konsep pemikiran yang saudara tawarkan, sudah sepatutnya menjadi perhatian mereka (para pengambil kebijakan). Diakui, umumnya di Tobasa pola petani masih padi minded. Sepertinya, petani disini belum punya keberanian untuk beralih kepada komoditi hortikultura. Padahal, dari segi analisa usahatani komoditi hortikultura lebih menjanjikan dibandingkan padi. Yang penting, kelestarian ekosistem harus dijaga. Juga, pemakaian pupuk kimia dan pestisida. Sebab, penggunaan pupuk dan pestisida secara serampangan, bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem dan terganggunya derajat kesehatan manusia. Sekali lagi, terima kasih.

Leave a Reply