Aek Bondar Masih Digunakan untuk Nyuci

Walau sudah 63 tahun merdeka, namun beberapa warga di desa Tambunan Baruara, berjarak sekitar 5 Km dari Balige ibukota Kab. Tobasa, masih menggunakan aek bondar (air parit) untuk keperluan cuci kain dan mencuci alat rumah tangga lainnya. Hal tersebut berlangsung sudah cukup lama.

Saat ditemui sedang mencuci pakaian di bondar ini, Ompu Andre br Napitupulu (55) mengatakan, dia bersama beberapa warga lainnya sudah cukup lama memanfaatkan aek bondar, untuk keperluan mencuci.

“Dari dulu, kami sudah menggunakannya untuk keperluan mencuci. Semenjak saya berumah tangga beberapa puluh tahun lalu. Hingga kami dikarunia Tuhan 8 orang putra/putri dan cucu sebanyak 7 orang. Kami sehat-sehat saja, koq”kata ompu Andre.

Air merupakan kebutuhan sangat vital bagi hidup dan kehidupan. Akan tetapi, gangguan kesehatan bisa terjadi, jika air yang dipergunakan sudah tersemar. Sebab, pencemaran menyebabkan timbulnya wabah penyakit. Seperti, kolera dan berbagai penyakit menular yang berbahaya.

“Memang, kalaupun sumur digali, kadang airnya berwarna agak merah. Tidak begitu jernih. Dan, pada beberapa tempat seperti di rumah seberang jalan, kedalamannya sampai 12 meter. Beda dengan dekat rumah kami. Hanya 5 meter sudah ketemu sumber air”, timpal boru Panjaitan (34).

Pemilik warung tuak ini mengakui, ibu-ibu lebih senang mencuci ke bondar ini, karena dianggap lebih praktis. “Untuk membuat sumur biayanya lumayan besar. Apalagi kalau memasukkan air ledeng dari PAM Tirtanadi. Berat kali itu”, akunya.

ompung mencuci
Aek bondar ini, mengalir mulai dari desa Matio hingga Baruara. Kemudian lewat desa Lumban Pea, seterusnya bermuara ke pinggir danau Toba. Kualitas air, dari segi tingkat kesehatannya, kurang dapat dipertanggung jawabkan. Sebab, pencemaran mungkin saja terjadi, akibat limbah domestik. Hal tersebut bisa berdampak buruk. Lingkungan yang kotor, akan mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Akibat yang lebih berat adalah terganggunya kesehatan.

Budianto Tambunan, Camat Balige tidak banyak berkomentar. Menurut dia, warga melakukan kegiatan cuci kain atau cuci piring di sana, bukanlah menjadi permasalahan besar. “Asal air bondar tersebut, tidak untuk dikonsumsi. Atau sebaiknya, dengan menggali sumur”jelasnya.

4 Responses to “Aek Bondar Masih Digunakan untuk Nyuci”

  1. Horas, tulang……
    Aku jadi ingat waktu kecil, bapak mengirim kami ke Tampahan. Tinggal di rumah sopo yang masa itu belum ada listrik dan air ledeng. Pas waktunya untuk mandi mulailah aku merengek minta pulang ke rumah, karena semua aktivitas harus diadakan di bondar. Mau makan, ga selera karena dicuci juga di bondar.. Rasanya, hidup ini tersiksa dan mulai mikiri segala macam jenis penyakit dan hal menjijikkan yang ada di bondar. Tapi anehnya, saudara-saudaraku sangat menikmati dinginnya air bondar. Sekarang, aku merindukan masa-masa itu. Ga sabar rasanya pulang ke Balige dan melihat aktivitas warga di kampung yang masih mennggunakan bondar. Salah satu rencanaku saat pulang ke Balige, mengunjungi rumah sopo di Tampahan dan nyemplung di Bondar… :-)
    Menurutku, aktivitas masyarakat yang masih menggunakan bondar adalah sebuah kebiasaan masyarakat turun temurun yang mempunyai daya tarik sendiri. Hanya saja perlu diperhatikan kebersihan airnya dan semoga kadar polusinya rendah. Jangan sampai mengundang berbagai penyakit….
    (Inong… masihol au mulak tu huta…)

    *****Memang, (sebagian, atau sebagian kecil) masyarakat kita masih menggunakan ‘aek bondar’. Tapi, itu mungkin karena tidak ada pilihan lain. Boleh jadi, mereka menggunakannya, karena ‘terpaksa’… (mungkin) belum tersedia sarana air minum atau air bersih. Sehingga, sampai sekarang masih ada yang menggunakan untuk keperluan tadi. Tugas ni hamu angka naposo ni bona pasogit na ma, dihilala roha laho paturehon i. Sai, diparbisuk Tuhanta ma antong hamu angka ianakkon nami. Gabe, talup hamu pature hutanta on. Laos dapot ma tutu, sude na uli dohot na denggan.
    Mauliate,

  2. Bukankah negara kita perairannya lebih luas daripada daratan? bukankah negara kita memiliki danau paling luas di dunia? (Danau toba di tapanuli utara)?.tetapi bukan hanaya desa tambunan saja yang kesulitan mendapatkan air bersih, hampir 78% wilayah pulau jawa juga mengalami hal yang sama. Siapa yang harus berperan penting terhadapa persoalan ini? tidak lain adalah para penguaasa negeri ini. Para pemimpin kita harus menyadari mengapa kesulitan tersebut diatas bisa terjadi? semuanya karena minimnya Sumber daya manusia untuk dapat mengelolah sumber daya alam yang begitu kaya.persoalan seperti di desa tambunan tidak akan pernah berkahir jika kita hanya menunggu pemerintah. jadi solusinya apa? mari kita membiasakan diri untuk mandiri,berusaha mengoptimalkan potensi yang ada, usahakan sejak dini investasi sumber daya manusia jangan selalu investasi fisik. saya yakin jika investasi sumber daya manusia kita sudah cukup maka kita akan merdeka dari kemiskinanan/ keterbatasan.INGAT FILOSOFI INI ” INVESTASI FISIK MENGALAMI PENYUSUTAN SEDANGKAN INVESTASI SUMBER DAYA MANUSIA MENGALAMI PENINGKATAN”

  3. Horas…

    Tradisi yg sudah lama terbiasa memang sangat sulit ditinggalkan,apalagi suasananya yang sekarang agaknya masih sulit untuk mengubahnya, menurut saya biarkan saja itu terjadi selagi tidak mengganggu yang lainnya, atau airnya masih sehat. Suasananya itu kita maklumi aja, kalau melihat kondisi situasi bondar dan situasi kampung yang nggak memungkinkan dibuatkan PDAM ya biarkan aja, saya rasa banyak kampung di Tobasa yang memakai air dari bondar, mata air, panjur, dll…

    Ibarat seorang lulusan sarjana pertanian memberikan penyuluhan kepada petani2 yang sudah lama bertani tanpa tamatan pendidikan yang segar, para petani takkan menerima begitu saja arahannya,…apa katanya…..ah….sok tau aja kalian….baru lulus aja uda ngajarin…..kami ini uda bertahun-tahun bertani……………..

    biarkan aja………………….

  4. Satolop do iba tu pandapot/komentar ni amanta camat Balige tulang Budianto Tambunan i, alai hurang singkop dope. Asa singkop komentar i, antar songon onma nian:
    Ia aek bondar i, holan sumber ni aek ma i. Unang adong limbah panunsian ni piring manang pahean na masuk tu aek bondar i. Tarlumobima “limbah ni Jolma”. Sotung! Unang maridi marusop tu bagasan ni bondar i.
    Songon panunsian na tabereng di gombar na di ginjang i, unangma di bagasan bondar i, alai di duru ma.
    Asa lobi tarjamin haiason ni tapian na laho sipangkeon i, boi do di saring. Sada namura do mambahen saringan jala ndang pola arga, holan modal ember dohot ijuk do, molo rihit, godang i di pasir an.
    Sada nai na sandok porlu, asa ganup ganup jabu nian adong septic tank na. Boi do kongsi dua jabu sada septic tank. Molo marsuara pangagomgomi i, sai tangihonon ni bangso i do i.
    Mauliate, horas jala gabe.

Leave a Reply