BLT Ibarat Obat Pening untuk Penyakit Kanker

Pemerintah kembali mengucurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin. Pemberian bantuan ini, sebagai langkah pengamanan sosial, meringankan beban pengeluaran rumah tangga miskin penerima bantuan. Pernah terdengar, ada suara sumbang yang mengibaratkanpemberian kompensasi BLT, seperti obat pening yang digunakan mengobati sakit kanker“.

Rabu (16/7), pembayaran BLT dilakukan secara serentak di Kabupaten Tobasa. Bupati Monang Sitorus langsung terjun ke lapangan, di 5 kecamatan. Masing-masing, kecamatan Laguboti, Balige, Tampahan, Sigumpar dan Porsea, Sejumlah Satker jajaran Pemkab, Kapolsek Balige dan beberapa personilnya, turut mendampingi. Pemberian bantuan berjalan tertib dan lancar.

Sinar cerah nampak dalam raut wajah seorang nenek tua, Op. Roganda br Sitohang (75 thn), saat menerima BLT yang diberikan Bupati Monang didampingi Kepala Kantor Pos Balige Bosmin Sinaga. “Mauliate, amang,” ucap Op.Roganda dengan haru, tanpa dapat menyembunyikan senyumnya pertanda gembira.

op. RogandaOp. Roganda boru, janda tua beranak 5, penduduk desa Tanggabatu, Kecamatan Tampahan, selama ini hidup dalam kesederhanaan. Kesehariannya, nenek ini hanya mengandalkan hasil pertaniannya. Sesekali, dia dibantu anak-anaknya secara bergantian. Biaya belanja, menopang kebutuhan hidupnya. “Gogo ni suan-suanan dang boi be tarparbaga. Antusi hamu ma, amang. Nga lamu suda gogo. Ai, so tolap be mula-ulaon. Hasil panen, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Maklum, sudah tua. Tidak kuat lagi bekerja” tutur ompu Ganda.

BLT diterima, Ompu Roganda sumringah. Sama halnya, dengan ompu Roganda-Ompu Roganda lain, yang hari ini menerima pembayaran BLT. Mereka menerima. Mungkin saja pasrah. Atau boleh jadi, karena kemiskinan yang mereka artikan, akibat keadaan yang tidak sanggup memelihara diri sendiri sesuai taraf hidup. Meskipun masih banyak yang enggan disebut miskin. Namun, kini gakin menjadi populer. Karena, mendapat BLT. Kenyataan, berlomba-lomba masyarakat mendapatkan status miskin. Harga diri tidak lagi jadi pertimbangan utama. Tapi perebutan status miskin demi BLT menjadi fenomena baru.
Dan, memang program BLT, difokuskan pada perlindungan dan keberpihakan terhadapsumringah rakyat miskin. Sesuai target pemerintah, untuk mengurangi kemiskinan pada tahun 2009, pada angka 8,2 persen. Tahun 2007, angka kemiskinan secara nasional masih berkutat pada angka 16,6 persen. Data BPS Tobasa memperlihatkan, terdapat 18.521 rumah tangga miskin.

“Di Kabupaten lain, Bupatinya jarang yang turun langsung membayarkan BLT. Sebab, mungkin banyak persoalan. Di daerah kita ini, pelaksanaan pembayarannya cukup lancar dan tenteram. Bantuan yang diberikan, hendaknya dapat dipergunakan untuk hal-hal bermanfaat.” kata Monang, saat menyerahkan BLT di halaman kantor Kecamatan Tampahan.

Menurut Camat Tampahan, B. Lumban Toruan, jumlah penerima BLT sebanyak 341 orang. “Bantuan yang dibayarkan, masing-masing Rp. 300 ribu per orang. Pemberian secara simbolis ini, untuk 60 orang gakin. 10 orang tiap desa. Selanjutnya, nanti mereka bisa mengambil ke kantor Pos di kecamatan terdekat” ujar Lumbantoruan.

PT Pos Balige, mengadakan layanan prima. Terutama, bagi kecamatan-kecamatan yang tidak memiliki kantor Pos di daerahnya. Pembayaran BLT, dapat dilakukan melalui koordinasi dengan camat. “Ini merupakan layanan prima. Disebut sebagai Layanan Komunitas.“kata Kepala Kantor Pos Balige Bosmin Sinaga, lewat telepon selulernya.

Ada semacam aturan yang memungkinkan, sehingga hal seperti ini bisa dilaksanakan kata dia lagi. “Di Tobasa, pelaksanaannya secara serentak dilakukan selama 1 hari. Yang bisa langsung dikunjungi rombongan Bupati, hanya 5 kecamatan. Yaitu, Balige, Laguboti, Tampahan, Sigumpar dan Porsea. Selanjutnya, penerima BLT dibayarkan pada kantor Pos terdekat. Tahun 2008, pembayarannya terbagi 2 tahap. Tahap pertama, periode Juni hingga Agustus. Selanjutnya, mulai September sampai Desember 2008” ungkap Bosmin Sinaga.

Akan tetapi, jika dipikir-pikir, BLT memang bukanlah sebuah solusi tepat. Sebab, jauh-jauh hari sebelumnya, banyak suara miring yang menyatakan BLT hanya merupakan bentuk pembodohan. Hampir sama dengan kebijakan pemerintah yang membagi-bagikan kompor dan tabung gas gratis. Sebab, yang terjadi, malah kompor dan tabung gas tersebut dijual lagi. Kebijakan-kebijakan instan seperti ini, sesungguhnya sangat patut dipertimbangkan.

Yang pasti, hari ini Ompu Roganda cukup berbahagia. Tersenyum. Sumringah. Sayang, senyumnya tercecer. Lemparannya terbuang. Hilang.


5 Responses to “BLT Ibarat Obat Pening untuk Penyakit Kanker”

  1. BLT….oh ….BLT…. mungkinkah hepeng seratus ribu sebulan cukup untuk menghidupi orang miskin?????
    Sampai kapan blt disalurkan? jangan-jangan hanya “tamparbura”.

  2. BLT, di satu sisi sangat dibutuhkan keluarga yang masuk kategori miskin. Karena “sedikit” meringankan biaya hidup untuk beberapa “hari” saja. Di sisi lain, membuat masyarakat semakin menggantungkan hidupnya pada bantuan pemerintah, sehingga (maaf..maaf..maaf..) seolah-olah mengajarkan masyarakat menjadi :pengemis”.
    Ai nga didia gogo ni bangso ta na mangula arian bodari di hauma, asalma keluarga boi mangan jala sikkola nang pe holan saotik na baoi tarbahen ???
    Belum lagi, BLT yang hanya akan mengisi kantong sebagian orang yang tidak bertanggung jawab…
    Semua serba salah…

  3. BLT???
    100ribu???
    Dari pada bagi2 BLT bagus SIKKOLA di gratisin,
    Berobat di gratisin, harga jual hasil panen Petani di naikin….
    harga SEMBAKO di turunkan……
    pasti yang miskin terkurangin……itu sih masih mungkin bagi yang tidak yakin…..

  4. I have been looking looking around for this kind of information. Will you post some more in future? I’ll be grateful if you will.

  5. Your site is worth beeing in the top cause it contains really amazing information.

Leave a Reply