Banggalah Jadi Orang Batak, Sebab Batak Memang Keren
Generasi muda harus dipersiapkan menghadapi perubahan yang tengah berlangsung cepat, tanpa harus tercabut dari akar budayanya sendiri, dan jati diri sebagai manusia batak. Saatnya berbuat, memperlihatkan kekayaan nilai-nilai budaya batak terpendam, yang mampu memberdayakan masyarakat, menyongsong perobahan dari waktu ke waktu. Saatnya meluruskan atribut-atribut miring yang terlanjur melekat dan hampir diakui sebagian orang batak sendiri.
Prof. Dr. Robert Sibarani, Rektor Univ. Dharma Agung Medan nara sumber pada symposium Batakologi untuk kurikulum Pendidikan Tobasa yang digelar Perhimpunan Masyarakat Informasi Tapanuli (PAMITA) bekerja sama dengan Diknas Tobasa beberapa waktu lalu mengatakan, kemajuan teknologi dan informasi perlu diselaraskan. Harus mampu merevisi demi penyempurnaan. Karena untuk bisa kembali ke masa lalu, adalah sebuah keniscayaan.
“Ada tiga hal penting yang ditanamkan dalam ke’batak’an, yaitu Nilai, sebagai inti philosofi dalihan na tolu “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru”, mampu menggambarkan kesantunan dan rasa hormat yang sopan. Yang kedua, Visi. Orang batak memiliki pemahaman : hasangapon, hagabeon, hamoraon, yang mampu memacu semangat untuk maju. Merupakan motif keberhasilan orang batak, mendapat pengakuan berbagai ras”,lanjutnya.
Yang ketiga, ujar Sibarani, adalah Identitas. “Untuk itu, kita harus senantiasa mempertahankan jati diri, tetap bangga sebagai orang batak. Silsilah dan marga yang dimiliki merupakan tatanan penting menyangkut adat istiadat. Banggalah jadi orang Batak. Sebab, Batak tidak haram. Suara orang batak yang kuat dan keras bukan menggambarkan kekasaran. Walau ada banyak nilai yang harus dipertentangkan sehingga menimbulkan konflik, semuanya bertujuan baik untuk berkompetisi” jelasnya.
Dalam konteks berpikir komersialisasi pelestarian budaya, jelas tidak memberikan apa-apa terhadap budaya itu sendiri, sebagai sesuatu objek yang hidup. Istilah pelestarian budaya dengan orientasi asset kepariwisataan belaka, tak ubahnya memindahkan “babiat” dari hutan ke arena sirkus.
Melalui kurikulum “Muatan Lokal Pendidikan di Sekolah”, budaya kita yang sarat dengan nilai dan makna yang ampuh, diharapkan mengisi kehidupan lebih berkualitas dan bermartabat tinggi, terutama untuk menghadapi perubahan yang sedang berlangsung, menyongsong masa depan.
Dalam sambutannya saat penyelenggaraan symposium, Bupati Tobasa Drs. Monang Sitorus, SH mengatakan, tetaplah bangga menjadi orang batak, dan jangan pernah merasa malu menjadi “halak batak. “Penyelenggaraan symposium bertujuan untuk menggali kembali budaya batak, serta kepada kepala sekolah agar membuat batakologi sebagai muatan lokal di sekolah”, harapnya.
“Menanamkan nilai budaya batak, dengan titik berat pewarisan budaya untuk mencegah terkikisnya budaya lokal serta pengenalan dan kecintaan dengan budaya batak, merupakan tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanan kegiatan ini”, ucap Drs. Hulman Sitorus, Kadis Pendidikan Tobasa.
Dikatakan, hasil yang diharapkan akan memberi peluang berkembangnya budaya lokal pada tingkat SD hingga SLTA, dengan kurikulum berstandard nasional.
Akan tetapi, Dr. F. L. Parluhutan Sitorus, MKes, bertanya, “kenapa justru data dan referensi tentang Batak itu sendiri, lebih banyak yang bisa didapat di luar negeri, seperti Belanda dan German ataupun melalui internet ? Idealnya, batakogi yang akan dijadikan sebagai muatan lokal di sekolah, jangan terlalu tinggi. Agak lebih spesifik serta lebih realistis. Cukup sebatas persiapan saja, lalu kemudian dilanjutkan dengan jenjang pendidikan lebih tinggi pada program S1 di perguruan tinggi”, tandasnya.
Sejatinya, pendidikan batakologi di sekolah umum, diarahkan untuk menumbuhkan rasa memiliki budaya sendiri dan membentuk sikap apresiatif, kritis serta kreatif, dalam rangka mengembangkan budaya sebagai asset pengembangan budaya nasional. Kurikulum ini merupakan respon tuntutan perkembangan IPTEK. Karenanya, siswa dituntut menguasai kompetensi untuk menggali, menseleksi dan mengkomunikasikan bahan kajian dari batakologi.
Dalam proses pendidikan, guru diharapkan mengajarkan berbagai nilai-nilai tradisi positif, untuk dapat mengembangkan nilai-nilai luhur, meningkatkan kematangan pribadi, menuju masyarakat beradab. Opini stake holder pendidikan, masyarakat yang peduli kelestarian budaya, kontribusi pemikiran strategi muatan kurikulum muatan lokal, implementasinya dalam pendidikan di kabupaten Tobasa, perlu dihimpun.
Filed under: Jurnal