Balairung Balige Perlu Ditata
Balairung, atau pasar tradisional yang terletak di pusat kota Balige, sudah sangat perlu pembenahan. Pasalnya, pusat pasar yang berada persis di jantung kota Balige ini, terkesan agak semraut. Hanya ditutup menggunakan pagar seng yang sudah usang. Sehingga, wajah kota Balige, akhir-akhir ini kurang sedap dipandang mata.
Balirung Balige, merupakan bangunan tua peninggalan zaman kolonial Belanda. Dibangun tahun 1938. Banyak kegiatan jual-beli berbagai jenis mata dagangan berlangsung di sini. Mulai dari sayuran, bahkan perhiasan. Akibatnya, kemacetan lalu lintas pun kerap terjadi. Apalagi saat pekan, di hari Jumat. Kondisi kesemrawutan, diperparah suasana lokasi bundaran Tugu Pahlawan Revolusi Mayjen Anumerta Donald Isaac Panjaitan yang kurang tertata.
Meskipun telah beberapa kali mengalami pemugaran, Balairung yang kokoh ini, tetap berhiaskan gorga Batak. Tampil dengan coraknya yang khas. Bentuknya, didisain dengan model rumah adat batak. Dinding depan, dipenuhi gorga (ukiran). Dulu, waktu zaman Belanda, Balairung ini hanya sebagai tempat belanja, yang terdiri dari dua bangunan kayu. Kondisinya cukup darurat. Akan tetapi, dimanfaatkan warga sekitarnya, melakukan transaksi jual beli.
Beberapa kali bangunannya mengalami renovasi dan pemugaran. Kini, konstruksinya terbuat dari rangka besi. Berornamen rumah adat Batak. Pernah dua kali dilalap si jago merah. Pertama pada tahun 1973. Diduga, akibat kebakaran rumah warga sekitar. Kemudian, merembet hingga ke bangunan balairung. Lalu, tahun 1980 kejadian yang sama menimpa kembali. Juga, diduga api bersumber dari rumah warga sekitar.
Balairung Balige, termasuk pasar tradisional terbesar di sekitar wilayah Tapanuli. Masyarakat dari luar kabupaten Tobasa, cukup banyak melakukan kegiatan transaksi jual-beli di sini. Hanya saja, akibat pelebaran jalan baru-baru ini, pelataran bagian depan terkena pelebaran. Akibatnya, lokasi Balerong makin menyempit ke dalam. Penataan Balerong sudah saatnya dipikirkan. Wajah kota Balige harus dibedaki. Sebab bangunan ini merupakan icon kota Balige Raja.
Filed under: Jurnal
Horas…
kenapa Balairong, ikon kota balige yang menjadi korban pelebaran jalan, dulu waktu saya SMA banyak turis yang datang ke Balairong ini, mereka kagum akan bangunannya dan pasarnya, sekarang ya…..amplop……tak terbayangkan…….
mauliate…
Salah satu kebanggaanku menjadi anak Balige adalah Ornamen Sopo dan Gorga di pasar balige. Pasar Baligelah satu-satunya yang memakai Ornamen Gorga dan bentuk sopo. Inilah ciri khasnya, tapi sayang kurang dirawat. Seharusnya Pemda membenahi pasar/balairung lebih modern tapi tidak kehilangan ciri khas jabu sopo dan gorganya. Setiap telepon mama, ga pernah ketinggalan kutanya keadaan pasar sampai mama pernah tanya, “Ai bea aroa molo diubah pemda pasar i ? Naeng tuntutanmu ? Bea, naeng tinggal ho di sopo ni pasar i ?? hehehe…. Tapi, entah kenapa aku sangat khawatir kalau suatu saat nanti pemda sampai merobohkan sopo atau gorga di balairung… Dari kecil, aku sangat menyukai dan bangga dengan ciri tradisional batak yang melekat di pasar balige…
Semoga masyarakat juga punya kesadaran sendiri untuk melestarikan dan menjaga kebersihannya. Jauhkan dari tangan-tangan jahil…..
horas…
dulu waktu sma…balairong adalah tempatku mencari pengalaman dan belajar bahasa inggris, karena waktu itu banyak turis yang datang…tapi sekarang….siapa lagi anak2 balige yang mau belajar bhs inggris……ga ada empat untuk belajar lagi….maksud saya praktek langsung dengan para turis…ya di pasar itu………
mauliate….