Agar Tidak Gaptek dan Melek Internet
Agar tidak melek internet, beberapa waktu lalu telah ditandatangani deklarasi World Summit on Information Society (WSIS). Tepatnya, tahun 2003 di Jenewa. Salah satu komitmen dari deklarasi, yaitu 50 persen penduduk dunia (termasuk Indonesia) tahun 2005 harus sudah memiliki akses informasi. Salah satunya,‘internet’.
Hadirnya warnet ‘bang napit’, yang dikelola Ny. M. br. Siahaan (48) di jalan Muliaraja 10 Balige, Kabupaten Tobasa, dirasakan cukup membantu memudahkan bagi pengguna yang bermaksud menggali informasi lewat akses internet. Terutama, anak sekolah, berkait tugas dan pelajaran yang diberikan gurunya. “Sekarang, dari tingkat SMP hingga SMA, sudah ditugasi mencari informasi yang materinya dari internet. Dan, melihat banyaknya peminat, saya terinspirasi untuk meramaikan bidang usaha ini. Mengikuti jejak pengusaha warnet sebelumnya” tutur perempuan paruh baya ini.
Saat ini, menurut ia, warnet yang ada di Balige, berjumlah kurang lebih 6 buah. Sehingga, dirasakan tidak terlalu mengalami kesulitan dalam meraih pangsa pasar konsumen. Sebab, para pengguna, terutama anak muda remaja, sedang menggandrungi jelajah dunia maya. Dunia tanpa tapal batas. “Agar tidak melek internet, sebaiknya memang kita harus membiasakan diri, menggali informasi, lewat mesin pencari super canggih ini” katanya.
Dikatakannya, peranan warnet-warnet yang ada di Tobasa, tidak bisa dipungkiri sudah ikut dalam mendongkrak angka melek internet di Indonesia. Jaringan Telkom Speedy, baru masuk ke Balige, akhir 2007 lalu. Diakuinya, masuknya jaringan Internet di Balige berdampak positif pada masyarakat. Khususnya, dalam bidang pendidikan.
Setengah bercanda, perempuan cantik ibu empat orang anak ini mengatakan, ‘siapa yang menguasai teknologi dan informasi maka dia akan menguasai dunia’. Memang, di Balige, warung internet bukan lagi hal baru. Para remaja, sudah cukup lama akrab dengan jelajah dunia maya ini. Friendster, chatting, email dan game on line menjadi sarana hiburan. Mereka sudah sangat familiar sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan internet.
Selain anak sekolah, sebut dia lagi, pelanggan di sini umumnya rekan-rekan wartawan. Mereka sering kumpul-kumpul.“Mengetik berita, kemudian mengirimnya via e-mail. Katanya, mereka tidak lagi menggunakan faximile untuk mengirim berita ke redaksi. Ini, termasuk kemudahan. Dampak positif, kecanggihan teknologi” ujar boru Siahaan sembari menambahkan, tarif yang ditetapkannya cukup murah dan bersaing. Hanya Rp3 ribu per jam.
Kendala penghalang menjengkelkan menurutnya, terlalu seringnya aliran listrik padam. Hidup, mati. Hidup lagi. Mati lagi. byer..pet..byer. pet. “Itu kan, bisa merusak alat-alat elektronik. Sehingga, sangat merugikan bagi usaha bisinis seperti ini. Jelas, penghasilan akan berkurang” keluhnya.
Menurutnya, sebagai pengusaha dituntut tanggung jawab dalam mengawasi akses situs yang sudah diblokir. Pada waktu berbeda, hal senada disampaikan Ibu Camat Balige, Ny. Budianto Tambunan, SE. “Hendaknya, pengusaha warnet lebih pro aktif dalam mengawasi akses situs-situs yang sudah diblockir. Terutama, anak-anak sekolah. Jangan sampai, mengakses hal-hal yang tidak mendidik”harapnya.
Filed under: Jurnal
Jayalah Balige
para pengelola internet harus waspada mengawasi pengguna internet khusunya para pelajar.SEGERA BLOKIR SITUS2 YANG BELUM PANTAS BUAT ANAK2 PELAJAR. Hati2 dengan virus yang dapat merusak Program computer anda, lebih berbahaya lagi virus bagi pengguna internet (khususnya kalangan pelajar) yang dapat merusak sikap mental anak2 yang setiap saat dapat merusak moral mapun masa depan anak2. contohnya Game online, situs pornografi, lebih parah lagi kadang kala interner bisa merusak DISIPLIN ANAK2. Pada Disiplin perlu ditanamkan sejak anak2. tks
ai bagak ate pengelola warnet i..
hahahahahaaaaaa…
sukses ya bunda..
love you so muchhh..
^_^